OPEN SOURCES JOURNAL

free research & academics collective article - true guardian to end all the globalist

Ketika ”Job Fair” Penuh Sesak dan Ketersediaan Lowongan Pekerjaan Dipertanyakan

Edukasi | 06 Jun 2025 02:36 AM

Kompas News - Job Fair Bekasi Pasti Kerja Expo yang diselenggarakan pada Selasa (27/5/2025) di gedung President University Convention Center, Cikarang Utara, Bekasi, berakhir rusuh. Dalam video yang viral di media sosial, jumlah pencari kerja di acara itu membeludak. Mereka tampak saling berdesakan, dorong, berebut QR code (kode batang) sebagai satu-satunya media akses, hingga beberapa ada yang jatuh dan pingsan.

Simak video berikut:






Kekacauan penyelenggaraan Job Fair Bekasi Pasti Kerja Expo memantik perdebatan di media sosial. Sebagai respons, Kepala Biro Hubungan Masyarakat Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker) Sunardi Manampiar Sinaga mengatakan, tingginya animo masyarakat terhadap job fair sangat bisa dimengerti terutama dari kalangan angkatan kerja baru.

Sayangnya, tanggapan Kemenaker itu tidak mampu meredam perdebatan dan kecemasan terhadap kondisi lapangan kerja di Indonesia. Di media sosial malah muncul diskusi lanjutan. Isinya adalah mengungkapkan bahwa banyak perusahaan peserta job fair — job fair selama ini sebenarnya tidak benar-benar membuka lowongan pekerjaan. Mereka hadir karena formalitas.

Terlepas dari benar-tidaknya rumor job fair hadir karena formalitas, Dewan Pakar Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Anton J Supit, Selasa (3/6/2025), di Jakarta, berpendapat, kerusuhan Job Fair Bekasi Pasti Kerja Expo merupakan bukti nyata ada masalah ketidakseimbangan suplai-permintaan pekerjaan. Sudah saatnya pemerintah mengakui kondisi sesungguhnya ketenagakerjaan Indonesia, bukan berdalih seakan-akan situasi sedang baik-baik saja.

”Kita harus realistis. Data PHK dan pengangguran memang berbeda, tetapi di lapangan banyak yang mengeluh cari kerja semakin susah. Jadi, jangan merasa hebat meski pertumbuhan ekonomi masih relatif tinggi,” ujarnya.

Berdasarkan laporan Keadaan Ketenagakerjaan Indonesia Februari 2025 yang dirilis BPS, jumlah penganggur di Indonesia selama setahun terakhir bertambah sekitar 83.000 orang menjadi 7,28 juta orang per Februari 2025. Sementara saat merancang UU Cipta Kerja sebelum pandemi Covid-19, pemerintah sempat menyebut jumlah pencari kerja di Indonesia berkisar 45 juta orang.

Kemenaker mengklaim jumlah PHK per 20 Mei 2025 sebanyak 26.455 kasus, sedangkan menurut Apindo mencapai 73.992 kasus per 10 Maret 2025. Sesuai data BPJS Ketenagakerjaan, pencairan jaminan hari tua (JHT) mencapai Rp 1,67 triliun kepada 114.742 tenaga kerja pada Januari - Maret 2025. JHT dapat diklaim jika peserta mengundurkan diri atau mengalami PHK.

Kualitas investasi yang masuk ke Indonesia berubah. Sekitar 7-8 tahun lalu, Rp 1 triliun investasi mampu menyerap 4.000-an pekerja. Kini, Rp 1 triliun investasi hanya bisa mempekerjakan 1.200 pekerja.

Menyelenggarakan job fair di tengah isu risiko PHK meluas, daya beli turun, dan pengangguran usia muda bisa jadi bumerang bagi pemerintah. Esensi job fair sesungguhnya ialah mempertemukan perusahaan yang kesulitan mencari pekerja dengan pencari kerja.

"Pencari kerja saat ini lebih besar dibanding jumlah permintaan pekerjaan. Pemerintah perlu perbaiki iklim investasi dan beri kepastian hukum bagi investor. Nilai ICOR diturunkan,” kata Anton.

ICOR atau Incremental Capital Output Ratio merupakan sebuah rasio yang menunjukkan seberapa banyak tambahan investasi yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu unit tambahan output dalam perekonomian. Pada 2023, BPS menyebut ICOR Indonesia mencapai 6,33. ICOR yang tinggi menunjukkan bahwa untuk mencapai pertumbuhan ekonomi tertentu, dibutuhkan lebih banyak investasi.

Dalam kesempatan berbeda, Presiden Asosiasi Serikat Pekerja Indonesia Muhamad Rusdi mengungkapkan, bukan hanya Job Fair Bekasi Pasti Kerja Expo yang dipadati peserta. Kini, setiap kali pemerintah daerah dan pusat menyelenggarakan job fair selalu dipadati ribuan pencari kerja. Apabila sampai terjadi kisruh, itu menandakan adanya fakta banyak sekali pengangguran yang sedang mencari pekerjaan.

Senada dengan Anton, Rusdi berharap pemerintah segera membenahi kondisi perekonomian di Indonesia dari hulu ke hilir. Mulai dari perbaikan iklim investasi hingga perlindungan kesejahteraan pekerja.

Head of Public Relations, Social, and Content Jobstreet by Seek Indonesia Adham Somantrie mengatakan, mengenai rumor job fair sebatas formalitas, pihaknya tidak dalam posisi yang tepat menjawab. Pihaknya mendukung segala aktivitas job fair yang diadakan Pemerintah Indonesia. Misalnya, pada Job Fair Kemenaker 22–23 Mei 2025, Jobstreet by Seek ikut berpartisipasi.

Berdasarkan pengalaman Jobstreet, setiap job fair baik virtual maupun luring yang diadakan oleh Jobstreet by Seek, perusahaan yang ingin berpartisipasi harus sudah terdaftar dan terverifikasi. Mereka juga harus dalam kondisi sedang aktif menayangkan iklan lowongan pekerjaan supaya ada indikasi bahwa perusahaan tersebut sedang mencari kandidat.

”Virtual Career Fair kami adakan sendiri, secara komposisi, pengunjung banyak didominasi oleh lulusan baru dan tingkat yunior,” ujarnya.

Adham membenarkan tingginya pengunjung job fair. Merujuk pada kegiatan Mega Career Expo 2025 yang diadakan Jobstreet by SEEK Bersama Garuda Organizer pada 16-17 April 2025 di Gedung Smesco, Jakarta Selatan, lebih dari 4.000 pencari kerja hadir dalam acara itu. Perusahaan yang berpartisipasi mencapai 40.

Secara terpisah, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal membenarkan, membeludaknya peserta di job fair menunjukkan ada kesenjangan yang besar antara ledakan pencari kerja dan suplai lowongan kerja formal. Apabila ada rumor job fair sengaja dibuat alias hanya formalitas, dia menyebut kemungkinan itu bisa saja terjadi.

”Masalah fundamentalnya ialah ada kesenjangan yang besar antara kuantitas penciptaan lapangan kerja formal yang lebih kecil dibanding permintaan. Hal itu kelihatan juga dari angka pengangguran usia muda Indonesia yang cenderung tinggi,” ucap dia. Peserta job fair biasanya pencari kerja usia muda, seperti baru lulus sekolah menengah atas/kejuruan dan kuliah.

Berdasarkan laporan CORE Insight yang baru-baru ini terbit, rilis BPS pada 5 Mei 2025 menyebutkan, pada Februari 2025 tingkat pengangguran terbuka (TPT) usia 15-24 tahun mencapai 16,16 persen atau tiga kali lipat dari rata-rata nasional yang hanya 4,76 persen.

Lebih dari separuh (52,64 persen) dari total 7,47 juta penganggur nasional adalah anak muda. Proporsi ini hampir identik dengan angka satu dekade sebelumnya, yaitu Agustus 2010. Saat itu, 51,96 persen penganggur berasal dari kelompok usia muda.

Jika dibandingkan dengan negara-negara lain, tingkat pengangguran muda Indonesia lebih mengkhawatirkan. Estimasi Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) yang dikutip CORE menyebutkan, pengangguran muda Indonesia mencapai 13,1 persen pada 2024. Hal ini lebih tinggi dari India (12,8 persen), Malaysia (12,3 persen), Vietnam (6,8 persen), Filipina (6,6 persen), dan Thailand (4,3 persen).

Dengan struktur ekonomi Indonesia yang lebih dari setengahnya digerakkan oleh sektor informal, anak-anak muda terjebak dalam informalitas ekonomi. Sekitar 44 persen anak muda aktif bekerja di sektor itu, terutama lulusan SMA, SMK, serta yang memiliki latar belakang lebih rendah.

”Job fair sebagai kanal informasi lapangan pekerjaan formal itu dibutuhkan. Hanya saja, dalam kasus kekisruhan Job Fair Bekasi Pasti Kerja Expo dan ledakan peserta job fair di tempat lainnya, pemerintah seharusnya memperbanyak kuantitas kesempatan kerja,” kata Faisal.


(Artikel Kompas)
Oleh Caecilia Mediana
04 Jun 2025 07:30 WIB · Ekonomi
Ketika ”Job Fair” Penuh Sesak dan Ketersediaan Lowongan Pekerjaan Dipertanyakan - Kompas Media

← Kembali ke Beranda

Advertisement

Mongolia
Iklan 1

Iklan menarik lainnya...

Iklan 2

Promo terbaru hari ini!