Raksasa Teknologi Ramai-ramai Bikin Pengganti Smartphone, Apa Itu?

Sains & Teknologi | 16 Jun 2025 12:32 PM
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejumlah raksasa teknologi di Silicon Valley mulai mengembangkan perangkat canggih yang diklaim dapat menggantikan smartphone dan disebut-sebut sebagai 'The Next Big Thing'. Apa itu?
Perangkat canggih yang diklaim dapat menggantikan smartphone itu adalah kacamata pintar berbasis kecerdasan buatan (AI). Setidaknya, ada lima perusahaan teknologi di Silicon Valley yang mengembangkan perangkat tersebut, yakni Google, Meta, Amazon, Apple, dan Snap.
Kelima perusahaan tersebut all-in dalam mengembangkan kacamata pintar yang benar-benar dapat melihat dan menjawab pertanyaan di sekitar pengguna.
Riuh pengembangan kacamata pintar ini didasari keyakinan para perusahaan teknologi bahwa smartphone tidak lagi cukup menarik untuk mendorong pengguna meng-upgrade secara rutin, serta keinginan untuk memanfaatkan AI dengan mengembangkan perangkat keras baru di sekitarnya.
Pengembangan kacamata pintar sebetulnya bukan barang baru. Google, pada tahun 2012 sebetulnya sudah memperkenalkan kacamata pintar mereka, Google Glass.
Namun, produk tersebut tidak laku di pasaran saat itu. Namun, kegagalan Google Glass dianggap hanya karena muncul terlalu cepat.
Oleh karena itu, saat ini dinilai merupakan momen yang tepat mengembangkan kacamata pintar. Pasalnya, kemajuan AI beberapa waktu terakhir dinilai dapat membuat kacamata pintar lebih berguna dari sebelumnya.
Jitesh Ubrani, manajer riset yang di firma riset pasar The International Data Corporation, mengatakan model AI yang sedang berkembang dapat memproses gambar, video, dan suara secara bersamaan, serta menjawab pertanyaan sulit. Hal itu dinilai dapat membuat kacamata pintar akhirnya layak untuk dipakai.
"AI membuat perangkat-perangkat ini jauh lebih mudah digunakan, dan juga memperkenalkan cara-cara baru bagi orang untuk menggunakannya," kata Jitesh, melansir CNN, Sabtu (14/6).
Secanggih apa kacamata pintar?
Google, Snap, Meta, dan Amazon sebelumnya telah merilis kacamata yang dilengkapi dengan kamera, speaker, dan asisten suara.
Namun, Google Glass yang dirilis lebih dari sepuluh tahun lalu tidak pernah populer. Layarnya kecil, daya tahan baterainya singkat, dan harganya mahal dan tidak modis.
Sementara, kacamata modern seperti Amazon Echo Frames, Meta Ray-Ban Stories, dan versi awal Snap Spectacles memudahkan pengguna untuk mendengarkan musik atau mengambil foto tanpa menggunakan tangan.
Namun, generasi terbaru kacamata pintar ini jauh lebih canggih. Kacamata Ray-Ban Meta AI misalnya, dengan perangkat ini pengguna dapat melakukan tugas seperti menanyakan apakah lada yang mereka lihat di toko kelontong pedas atau menerjemahkan percakapan antar bahasa secara real-time.
Perusahaan induk Ray-Ban, EssilorLuxottica, mengatakan sejak diluncurkan pada 2023, 2 juta pasang kacamata telah terjual.
"Sudah bertahun-tahun upaya [mengembangkan kacamata pintar] itu gagal. Tapi, sekarang akhirnya ada beberapa konsep baik yang berhasil," kata Andrew Zignani, Direktur Riset Senior tim Teknologi Strategis ABI Research.
Prediksi pasar
Dan riset pasar menunjukkan ada minat yang besar kali ini terhadap kacamata pintar. Menurut ABI Research pasar kacamata pintar diperkirakan akan tumbuh dari 3,3 juta unit yang dikirim pada 2024 menjadi hampir 13 juta pada 2026.
International Data Corporation juga memperkirakan pasar kacamata pintar seperti yang diproduksi oleh Meta akan tumbuh dari 8,8 juta pada 2025 menjadi hampir 14 juta pada 2026.
Apple juga dilaporkan sedang mengembangkan kacamata pintar yang akan diluncurkan tahun depan. Produk ini akan bersaing langsung dengan kacamata pintar buatan Meta.
Panos Panay, kepala divisi perangkat dan layanan Amazon, juga tidak menampik kemungkinan kacamata Alexa yang dilengkapi kamera, mirip dengan yang ditawarkan Meta.
"Tapi saya pikir Anda bisa membayangkan, akan ada banyak perangkat AI yang akan datang," kata Panos pada Februari.
Aplikasi AI, seperti ChatGPT dan Gemini, sudah mulai membangun dasar untuk kacamata pintar dengan menggunakan kamera Hp pengguna untuk menjawab pertanyaan tentang lingkungan sekitar.
Google mengatakan bahwa mereka akan memperluas penggunaan kamera dalam aplikasi pencariannya. Ini menandakan mereka melihat teknologi ini sebagai cara baru orang mencari informasi.
Apple pekan lalu mengumumkan pembaruan pada alat Visual Intelligence-nya yang memungkinkan pengguna mengajukan pertanyaan tentang konten di layar iPhone mereka, selain lingkungan sekitar, dengan menggunakan kamera.
CEO Meta, Mark Zuckerberg, baru-baru ini kembali menegaskan keyakinannya bahwa kacamata pintar dapat menjadi cara baru orang menggunakan teknologi.
"Taruhan besar yang kami miliki di perusahaan ini adalah bahwa banyak cara orang berinteraksi dengan konten di masa depan akan semakin melalui berbagai medium AI, dan pada akhirnya melalui kacamata pintar dan hologram," kata Mark.
Merekam video dengan kacamata berkamera lebih tersembunyi daripada menggunakan ponsel, meskipun kacamata Meta dan Google dilengkapi dengan lampu di bagian depan untuk memberi tahu orang lain saat pengguna sedang merekam konten.
Tantangan terbesarnya adalah meyakinkan konsumen bahwa mereka membutuhkan perangkat teknologi lain dalam hidup mereka, terutama bagi mereka yang tidak memerlukan kacamata resep. Produk-produk ini harus layak untuk dipakai di wajah sepanjang hari.
Dan perangkat-perangkat ini kemungkinan tidak akan murah. Kacamata Ray-Ban dari Meta biasanya dijual seharga sekitar $300 atau setara Rp4,8 jutaan (dengan asumsi Rp16.313 per 1 dollar AS).
Meskipun harganya tidak semahal headset Apple Vision Pro seharga $3.500 atau sekitar Rp57 juta, hal ini tetap bisa menjadi tantangan karena orang-orang cenderung mengurangi pengeluaran untuk produk teknologi tambahan.
Hal ini tercermin dari menurunnya penjualan smartwatch. Counterpoint Research mengungkap penjualan smartwatch secara global turun untuk pertama kalinya pada Maret.
Menurut mereka, ini bisa jadi sinyal bahwa konsumen tidak lagi menghabiskan banyak uang untuk perangkat yang mereka anggap tidak esensial.
Namun, perusahaan teknologi bersedia mengambil risiko tersebut untuk menghindari ketinggalan dari apa yang mungkin menjadi produk teknologi blockbuster berikutnya.
"Banyak pihak di industri ini percaya bahwa smartphone pada akhirnya akan digantikan oleh kacamata atau sesuatu yang serupa," kata Jitesh.
"Hal itu tidak akan terjadi hari ini. Itu akan terjadi bertahun-tahun dari sekarang, dan semua perusahaan ini ingin memastikan bahwa mereka tidak akan ketinggalan perubahan tersebut," pungkasnya.
(dmi/dmi)
Baca artikel CNN Indonesia "Raksasa Teknologi Ramai-ramai Bikin Pengganti Smartphone, Apa Itu?" selengkapnya di sini: raksasa-teknologi-ramai-ramai-bikin-pengganti-smartphone-apa-itu2>
( CNN_Indonesia )
